Minggu, 20 Oktober 2013

Jumat, 18 Oktober 2013

Mencintai alam itu bukan sekedar naik gunung, atau menyelam lautan.
tapi ada yang lebih sederhana dengan cara jangan buang sampah ke sungai.

GUNUNG PAPANDAYAN SEKARANG

Nasionalisme di puncak gunung papandayan
16 - 17 agustus 2013...
hampir 10 tahun gak menginjakan kaki lagi ke puncak gunung papandayan, ternyata papandayan sekarang banyak yang berdeda.
pas masuk terminal tadinya pohon2 masih banyak sekarang habis kena uap panas pas meletus.
selanjutnya jalur yang ke pondok saladah berbeda rutenya  tadinya lurus mengikuti jalan besar sekarang harus turun ke bawah, dikarenakan jalur yang dulu sudah gak ada kena timbunan longsor...

Lestarikan Hutan Kita

Ada Pohon
Ada air
Ada Kehidupan

Senin, 05 November 2012

Legenda Si Gombar

ATMOSFER perkotaan Garut di putaran tahun 1960-an, laksana wajah kota dalam film western. Pemandangan kota kecil, yang berharga klasik. Beralasan, saat layanan jasa KA Garut selesai, warga pun tiada habis bertanya, terkait lagi dengan cerita orangtua. ”Jaga kareta api teh bakal nepi ka Pameungpeuk. Mun geus nepi ka pakidulan, cirining nagari bakal subur ma’mur loh jinawi” (”Nanti kereta api akan sampai ke Pameungpeuk. Jika sudah menepi ke selatan, itu pertanda negeri akan subur makmur loh jinawi”).
Akan tetapi, lakon kereta api di Garut tak sempat menembus kawasan selatan. Agaknya, kenyataan itu bukan menepis cerita angin surga dari kalangan leluhur. Tak lain, karena kesaksian alm. M. Endang mantan petugas DKA menuturkan, bahwa sebenarnya tahun 1945 pemerintah pernah merancang penyambungan rel KA, dari stasiun Cikajang ke Pameungpeuk Garut. Upaya memanjangkan rel KA sejauh 50 km itu terhenti, karena benturan teknis.

Kebutuhan bentangan rel, terbenteng dinding Pegunungan Batu Tumpang di Cikajang. Alur jembatan KA pun harus banyak mengangkangi kedalaman lembah yang sangat curam. 49 tahun kemudian, angin segar kembali bertiup. 18 Maret 1994, saat Dr. Haryanto Dhanutirto menjabat Menteri Perhubungan RI, mengungkapkan bahwa pemerintah bersiap membangun lagi perkeretaapian di Garut.


Menurut Menhub selepas berziarah ke makam keluarganya di Cisurupan, pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan survei untuk meneliti kelayakan kondisi jalur rel kereta api, dari Cibatu hingga Cikajang sejauh 50 km. Uniknya, sebelum itu terumbar kabar ganjil, tentang keretakan dinding Pegunungan Batu Tumpang, yang dianggap bukan pekerjaan manusia. Banyak orang memaknai itu sebagai isyarat akan terwujudnya jalan kereta api ke pesisir selatan Garut.
Kenyataan lain berpaling dari rancangan. Upaya mengembalikan kejayaan KA Garut justru memanjangkan obsesi lama. Puluhan tahun sudah, legenda lok Si Gombar tak berdaya lagi membelah keramaian Kota Garut. Segenap lapisan warga Garut kehilangan. Terlebih, karena kereta yang melintas lima kali dalam sehari itu, mengental sebagai patokan waktu. Oleh karena itu, warga Garut pernah tersentak, saat suatu sore KA muncul menarik gerbong tangki.

Berulang kali terjadi, kehadiran kereta api dengan rangkaian gerbong tangki. Terkabar, Perumka kembali mengoperasikan KA Cibatu-Garut, hanya untuk memasok BBM ke PTG (Pabrik Tenun Garut). Namun, kemitraan Perumka dengan pabrik tenun legendaris Garut itu tak berlangsung lama, karena dinilai tidak saling menguntungkan. Kondisi seperti itu pula yang terjadi pada tahun 1955, ketika KA Garut menjajaki layanan jasa trayek ke Bandung.
Jelang penghentian operasi KA, lengkingan ”Si Gombar” tak lagi nyaring. Gemuruh lokomotif bertenaga uap itu, bagai helaan napas ketuaan yang harus tersenggal-senggal. Kondisi lokomotif KA sakit-sakitan. Laju kereta tak bisa lagi berpacu dengan waktu. ”Raksasa Hitam” bergelar ”Si Gombar” itu pun ambruk. Bahkan, orang mampu mengejar laju kereta yang bertolak dari Halte Wanaraja ke arah Halte Cinunuk, menyusuri rentang jarak 1 kilometer.
Tentu saja, karena kereta api bergerak lamban dengan sisa tenaga masa lampau. Acap kali pula terjadi, kereta mundur lagi ke jalanan datar, sebelum merangkak melintasi tanjakan tajam memanjang di kawasan Cikajang. Citra KA di Garut lalu memburam. Memang ”Si Gombar” pernah berganti wajah lokomotif diesel. Akan tetapi, kereta modern itu tak bisa melumat beratnya tanjakan rel di celah lahan berbukit itu. (Dok. Pariwisata, "PR"; 16/4/11)***

Selasa, 21 Agustus 2012

Atraksi adu domba khas jawa barat.

ATRAKSI ADU DOMBA JAWA BARAT.

Adu domba merupakan salah satu kesenian khas rakyat jawa barat yang cukup digemari, terutama di kalangan tradisional. Kesenian ini merupakan peninggalan leluhur yang masih bertahan eksistensinya hingga saat ini.
Antrian domba untuk bertanding
Antrian domba menunggu giliran pertandingan..